RSS

Arsip Tag: kecerdasan visual – spasial

# 3 KECERDASAN VISUAL – SPASIAL

Adalah kemampuan untuk membentuk suatu gambaran tentang tata ruang didalam pikiran. Anak anak dengan kecerdasan visual-spasial  yang tinggi cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya khayalan internal (internal imagery) sehingga cenderung imajinatif dan kreatif.

Orang dewasa dan anak anak dengan kecerdasan visual-spasial tinggi memiliki kepekaan dalam mengobservasi dan memiliki kemampuan untuk berpikir dalam gambar. Kemampuan ini memungkinkan untuk bisa membayangkan bentuk bentuk geometri  atau tiga dimensi dengan mudah.

Kemampuan spasial ini sendiri seperti yang dikutip Gardrer dibagi menjadi tiga komponen (ini terjemahan bebasnya, silahkan merujuk pada buku Frames of mind: The Theory of Multiple Intelligences).

  • Kemampuan untuk mengenali identitas sebuah objek yang ada didepannya dari sudut pandang yang berbeda
  • Kemampuan untuk membayangkan perubahan sebuah konfigurasi  ketika komponen konfigurasi itu dirubah atau dipindah. Misal saat bermain balok, anak dapat membayangkan apabila sebuah balok dipindah nantinya akan terbentuk sebuah bangunan seperti yang ia inginkan
  • Kemampuan untuk memahami hubungan spasial antara dirinya dengan benda lain. Misalnya saat naik sepeda, seorang anak dapat memperkirakan jarak dirinya dengan sebuah pohon.

Anak anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi berpikir dengan gambar dan imej (image). Biasanya mereka menyukai kegiatan bermain Puzzle, menggambar, bermain balok, bermain maze, membangun bentuk, serta berimajinasi membentuk bangunan bangunan lewat permainan, anak anak dengan kecerdasan ini juga seringkali melamun.

Dalam belajar, anak anak ini adalah tipe belajar secara visual. Mereka menyukai poster dan gambar, film dan presentasi visual lain untuk menyerap informasi baru. Sebagai “pelamun”, anak anak ini terkadang menghadirkan sebuah film dalam bayangan internal mereka yang tidak pernah mereka lihat secara nyata. Tidak hanya melamun atau berhayal, anak anak ini juga pengamat yang tajam terhadap dunia sekitarnya, suka mencari cari kesalahan dan detil yang orang lain lupakan.

Tahap perkembangan Visual – Spasial anak usia balita (0 – 5 tahun)

Tahapan Menggambar dan Perkembangan Kemampuan Mencoret
12 – 18 bulan Kemampuan menggambar umumnya dimulai saat anak berusia 12 hingga 18 bulan, yaitu saat ia mampu membuat “tanda” diatas kertas. Setelah itu pada 18 hingga 24 bulan kemampuan ini meningkat.Orang tua akan dikejutkan dengan kemapuan anak membuat gambar garis garis vertikal dan kurva kurva. Ini yang dinamakan perkembangan “benang kusut”. Benang kusut ini merupakan dasar dari perkembangan menulis sikecil kelak.Selain melatih kecerdasan visual-spasialnya, membuat benang kusut juga melatih perkembanga motorik halus anak pada saat anak menggenggam atau memegang pensil, menggerakkannya diatas kertas, dan memberikan tekanan pada pinsil atau krayon yang digunakan.Kemampuan mencoret anak pada usia ini ada dalam tahap mencoret sembarangan.

  • Anak belum bisa mengendalikan aktivitas motoriknya
  • Coretan yang dibuat masih berupa goresan tak menentu, seperti benang kusut
  • Pensil  dan krayon masih dipegang seperti memegang palu
  • Gerakan pergelangan tangan juga masih kaku
2 tahun Setelah periode benang kusut, garis garis vertikal dan kurva kurva yang dibuatnya semakin jelas. Berbagai objek dalam bayangan pikirannya akan menjadi referensi yang akan merangsang anak untuk menuangkannya dalam gambar.Kemampuan mencoret anak pada usia ini masuk pada tahap mencoret terkendali.

  • Anak sudah mulai menyadari adanya hubungan antara gerakan tangan dengan hasil gerakan tangannya
  • Sudah dapat mengubah goresan menjadi garis panjang, kemudian kurva kurva
3 – 4 tahun Sekitar usia 3 tahun, saat kemampuan imajinasi anak meningkat, ia mulai berani menggambar objek objek yang hadir dari pengalamannya. Misalnya ketika melihat gajah, sikecil akan mencoba menggambarnya.Kemampuan berbahasanya yang meningkat akan menunjang anak untuk menjelaskan apa yang telah digambarnya.Pada usia ini, biasanya anak mulai dapat membuat bentuk seperti lingkaran, bujursangkar, persegi panjang, segitiga dan lainnya meski belum halus benar. Seringnya anak berlatih, membuat ia semakin mahir dan mampu membuat gambar secara keseluruhan.Kemampuan mencoret anak pada tahap ini sudah pada kemampuan untuk menamakan coretan.

  • Pergelangan tangan anak lebih luwes
  • Sudah mahir menguasai gerakan tangan
  • Hasil coretan lebih berbentuk
  • Meskipun masih berupa garis atau lingkaran, anak sudah memberi nama pada goresan yang dibuatnya.
Perkembangan Kreativitas Anak
Kreativitas adalah suatu proses membuat sesuatu dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Proses ini melibatkan elemen pengetahuan, yakni dengan pengalaman yang lalu kemudian menghasilkan sesuatu yang baru.Misalnya seorang anak yang mencampurkan cat warna merah dan kuning yang kemudian untuk pertama kalinya ia mengetahui bahwa mencampur warna itu akan menghasilkan warna orange maka anak tersebut telah melakukan proses kreatif.Kebanyakan anak suka membuat sesuatu, dan dengan senang hati mereka melakukan proses kreatif. Mereka menggambar, mewarnai gambar, membentuk tanah liat, menempel, yang tanpa mereka sadari kegiatan kegiatan tersebut akan membuat mereka berkembang dalam cara berfikir yang tak terhingga. Berfikir tidak hanya dari satu arah melainkan dari berbagai sudut pandang.
18 bulan – 3 tahun
  • Senang mewarnai, melukis dan mencetak tetapi tidak terlalu memikirkan hasilnya
  • Suka membuat coretan, tidak hanya dikertas tetapi juga di dinding kamar, rak, sofa atau bahkan dibadan anak lainnya
  • Diusia sekitar 2 tahun sudah dapat membuat garis vertikal dan kurva dan sudah mulai membentuk lingkaran
  • Suka melakukan fingger painting yaitu melukis menggunakan jari atau dengan seluruh tangannya
  • Sekitar usia 30 bulan sudah dapat menamai warna
3 tahun
  • Masih tetap menyukai kegiatan proses kratif tetapi sudah mulai melihat tujuan (goal oriented)
  • Sudah dapat menggunakan gunting
  • Belajar menggunakan peralatan gambar dengan mudah, kertas tidak lagi dipegangnya, sementara tangannya dengan mudah memegang kuas atau krayon
  • Sudah mampu menamai semua warna
  • Menyukai pola pola dalam menggambar atau melukis
  • Suka dengan garis garis yang sejajar, bentuk bentuk geometri dan warna.
  • Menggambar berulang ulang gambar/ model yang disukainya (misal mobil, rumah, atau gunung)
  • Suka membuat pola pola sederhana
  • Sudah mulai bisa menceritakan apa yang digambarnya
4 tahun
  • Menggenggam pensil dan krayon seperti halnya orang dewasa
  • Mulai membuat figur manusia dengan kepala, mata dan kaki
  • Sangat menyukai fingger paint, menggunakan semua gerakan untuk mendapat bermacam macam efek
  • Sudah dapat menggunakan gunting dengan mengikuti  garis panjang dan kurva
  • Sudah mampu menuturkan apa yang digambarnya dengan lebih bermakna
  • Objek gambarnya menjadi lebih kaya (misal menggambar rumah sudah ditambah bunga, pohon, hewan, atau menggambar gunung sudah lebih “lengkap” dengan awan, matahari, burung, atau menggambar mobil sudah dengan gedung, jalan, awan, dll) meskipun belum proporsional.
5 tahun
  • Mengawali kegiatan dengan rencana. Ia dapat menjelaskan konsep, rencana, peralatan dan warna yang akan digunakan
  • Sudah menggambar dengan detailnya meskipun lebih banyak tidak proporsional
  • Dapat menggunting dengan lebih detail/rapi misalnya mengunting bentuk persegi atau segitiga
  • Mencampur atau menggunakan warna dengan penuh keyakinan.

Kegiatan kegiatan yang bisa menstimulasi kecerdasan visual-spasial

1 Mencoret – coret

Untuk mampu menggambar, anak memulainya dengn tahapan mencoret terlebih dahulu. Mencoret merupakan aktivitas yang kadang tidak mendapat perhatian dari orang tua karena tampak tidak berarti. Padahal kegiatan ini sarat manfaat bagi sikecil.

Mencoret yang biasanya dimulai sejak anak berusia 18 bulan ini adalah sarana anak untuk mengekspresikan diri.  Dari cara anak mencoret yang tidak setenang biasanya misalnya, kita bisa tahu kalau ia sedang  kesal.

Coretan coretan anak biasanya diawali dengan benang kusut kemudian terlihat membentuk garis dan kurva kurva, lama lama garis dan kurva ini semakin tegas bentuknya. Gerakan tangan yang dilakukan anak untuk membuat garis dan kurva pada dasarnya melatih keterampilan motorik halus selain itu juga melatih koordinasi mata dan tangan sikecil.

Coretan coretan ini merupakan bekal bagi anak untuk membuat huruf huruf.

membacanya. Kami juga menggunakan alat bantu buku terbitan Talenta Media Utama berjudul “Aku Mahir Membaca”

Wah dari stimulus coret mencoret sampai cerita Azzam belajar membaca,, Hmm tapi memang dari coret mencoretlah semua bermula,,

  • Menggambar dan Melukis

Dua kegiatan ini juga dapat menstimulus kecerdasan visual-spasial anak. Dengan dua media ini anak dapat menuangkan imajinasinya, anak dapat menuangkan ide ide berceritanya dalam bentuk gambar yang kemudian bisa dia ceritakan kembali pada orang lain.

Media yang digunakan sangat beragam mulai dari menggambar di kertas, menggambar di kayu, menggambar di kain, menggambar gelas , bisa dengan pinsil warna, krayon, cat air.

Bisa juga dengan melukis menggunakan kuas, dengan jari, dengan tangan, membuat cetakan cetakan tangan, membuat cetakan cetakan kaki

Bisa juga mencetak buahan misalnya dengan buah belimbing yang dipotong  rata tengah sehingga membentuk bintang yang kemudian bisa dicetak menggunakan cat warna, atau mencetak daun

  • Melakukan permainan konstruktif dan kreatif

Untuk stimulasi ini bisa menggunakan media apaaa saja yang ada disekitar kita,, Anak anak bisa menggunakan media balok kayu atau plastik

  • Bermain Puzzle dan Bermain Maze
  • Membuat prakarya

Seni melipat kertas juga merupakan latihan yang bisa melatih kecerdasan visual-spasial. /

  • Mengatur dan merancang

Untuk mengasah kemampuan visual spasialnya, sikecil juga bisa diajak untuk ikut serta dalam mengatur ruangan dirumah. Kegiatan ini bisa disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak usia 3 – 4 tahun mungkin sudah dapat diajak untuk mengatur kamar tidurnya atau taman mini dibelakang rumah. Membiarkan anak untuk berkreasi akan meningkatkan kepercayaan dirinya sekaligus memberi ruang untuk berimajinasi menciptakan “keindahan” . Untuk anak dengan usia lebih muda mungkin bisa dilatih dengan merapihkan rak buku atau rak mainannya sendiri.

  • Menyanyi, mengenal dan membayangkan suatu konsep

Dibalik kegembiraan anak saat melakukan kegiatan ini, seni juga dapat membuat anak menjadi cerdas. Melalui bernyanyi misalnya, anak mengenal berbagai konsep. Lagu mengenai pemandangan misalnya, akan membuat anak mengenal konsep bukit, sawah, sungai dan gunung . Ketika ia menyanyikannya, ia juga membayangkan objek objek alam yang dinyayikannya, referensi imajinasi anakpun kian bertambah.

  • Mengunjungi berbagai tempat

Mengunjungi berbagai tempat bisa memperkaya pengalaman visual anak. Orang tua bisa mengajak anak anak ke museum, toko buku,  perpustakaan, kebun binatang,  laut, sungai, sawah, gunung, dan mungkin dengan berkemah. Semua pengalaman yang didapat akan memperjelas gambaran visual yang ada dalam benaknya.

 

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 30, 2011 in PARENTING, PENGETAHUAN HS

 

Tag: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.